Selasa, 20 Maret 2012

Konsep Sehat, Perkembangan Kesehatan Mental, Perkembangan Kepribadian, dan Kepribadian Sehat

1. Pengertian mengenai kesehatan beragam. Pengertian sehat atau kesehatan menurut dokter mungkin sedikit banyak akan berbeda dengan perawat, fisioterapi, apoteker, atau tenaga paramedis lainnya, meskipun mereka bersama-sama mengabdi pada bidang kesehatan. Bahkan para mahasiswa psikologi meskipun umumnya mendefinisikan sehat atau kesehatan lebih berfokus pada masalah fisik, misalnya bebas dari penyakit dan cacat atau berfungsinya alat-alat tubuh secara penuh sehingga orang dapat melakukan aktifitas sehari-harinya.

Buku teks klasik , Harrison’s Principles of Internal Medicine yang memuat compendium mengenai penyakit, tidak pernah memuat petunjuk-petunjuk untuk memulihkan dan menjaga kesehatan. Buku ini memuat deskripsi bagaimana mengobati penyakit-penyakit tertentu. Sehat dan kesehatan tidak pernah dibahas secara eksplisit sehingga istilah kesehatan bahkan tidak tercantum di dalam indeks buku tersebut (Joesoef, 1990). Ferud (1991) dengan mengutip The International Dictionary of Medicine and Biology, mendefinikan kesehatan sebagai “suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya, yang dicirikan oleh funsi yang normal dan tidak adannya penyakit”, juga sampai ada kesimpulan mengenai kesehatan sebagai suatu keadaaan tidak adanya penyakit sebagai salah satu ciri kalau organisme disebut sehat. Pemahaman mengenai kesehatan umumnya masih berfokus pada masalah fisik dan bertitik tolak pada masalah ada tidaknya penyakit. Itu yang menjadi alas an mengapa konsep mengenai penyakit juga menjadi pembahasan.

Kamus lain tampaknya mengartikan kesehatan (health) mirip dengan pengetian kesehatan seperti yang diungkapkan oleh Freud tersebut yaitu sebagai 1. Condition of a person’s body or mind, 2. State of being well and free from illness (Hornby, 1989). Namun pada pemahaman terakhir ini, kesehatan juga menyangkut segi lainnya selain fisik, yaitu sudah memasukkan unsure jiwa dan keadaan sejahtera, yang tentunya juga tidak lepas dari masalah psikologis.

Pengertian mengenai kesehatan umumnya dimengerti sebagai hal yang bersifat fisik dan kurang memperhatikan hal-hal yang bersifat mental bias dipahami karena hal-hal fisik lebih mudah diamati karena tampak pada realita sehingga lebih mudah disadari oleh individu dibanding hal yang bersifat psikis. Selain itu dalam sejarahnya, manusia memahami lebih berjuang untuk membebaskan diri dari segala bentuk penyakit-penyakit fisik, karena penyakit fisik sangat jelas sekali mempengaruhi kualitas kehidupan dibanding hal-hal yang bersifat psikologis.

Maslow dan Mittlemenn (dalam Notosoedirjo dan Latipun, 2005:75) menguraikan pandangan mengenai prinsip-prinsip kesehatan mental, yang menyebutnya dengan manisfestation of psychological health. Maslow menyebut kondisi yang sehat secara psikologis itu dengan istilah self actualization sekaligus sebagai puncak kebutuhan dari teori hierarki kebutuhan yang disusunnya. Manifestasi mental yang sehat (secara psikologis) menurut Maslow dan Mittlemenn tercermin dalam sebelas dimensi kesehatan mental:

a. Adequate feeling of security (rasa aman yang memadai).
Perasaan merasa aman dalam hubungannya dengan pekerjaan, social, dan keluarganya;

b. Adequate self evaluation (kemampuan menilai diri sendiri yang memadai), yang mencakup:
(1). Memiliki harga diri yang memadai dan merasa ada nilai yang sebanding antara keadaan diri yang sebenarnya (potensi diri) dengan prestasinya; dan
(2). Memiliki perasaan berguna akan diri sendiri, yaitu perasaan yang secara moral masuk akal, dan tidak diganggu oleh rasa bersalah yang berlebihan, dan mampu mengenal beberapa hal yang secara sosial dan personal tidak dapat diterima oleh kehendak umum yang selalu ada sepanjang kehidupan di masyarakat;

c. Adequate spontanity and emotionality (memiliki spontanitas dan perasaan yang memadai dengan orang lain), hal ini ditandai oleh kemampuan membentuk ikatan emosional secara kuat dan abadi, seperti hubungan persahatan dan cinta, mampu mengekspresikan ketidaksukaan/ketidaksetujuan tanpa kehilangan kontrol, kemampuan memahami dan membagi perasaan kepada orang lain, kemampuan menyenangi diri sendiri dan tertawa. Ketika seseorang tidak senang pada suatu saat, maka dia harus memiliki alas an yang tepat mengapa dia tidak senang;

d. Efficient contact with reality (mempunyai kontak yang efesien dengan realitas). Kontak ini sedikitnya mencakup tiga aspek yaitu dunia fisik, sosial, dan diri sendiri dan internal. Hal ini ditandai dengan:
(1). Tiadanya fantasi (khayalan dan angan-angan) yang berlebihan;
(2). Mempunyai pandangan yang realistis dan luas terhadap dunia, yang disertai dengan kemampuan menghadapi kesulitan hidup sehari-hari, misalnya sakit dan kegagalan; dan
(3). Kemampuan untuk merubah diri sendiri jika situasi eksternal (lingkungan) tidak dapat dimodofokasi (diubah) dan dapat bekerjasama tanpa merasa tertekan (comperation with the inevitable);

e. Adequate bodily desires and ability to gratify there (keinginan-keinginan jasmani yang memadai dan kemampuan untuk memuaskannya). Hal ini ditandai dengan:
(1). Suatu sikap yang sehat terhadap fungsi jasmani, dalam arti menerima fungsi jasmani tersebut;
(2). Kemampuan memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan dari dunia fisik dalam kehidupan seperti makan, tidur, dan pulih kembali dari kelelahan;
(3). Kehidupan seksual yang wajar dan keinginan yang sehat untuk memuaskan tanpa rasa takut dan konflik;
(4). Kemampuan bekerja; dan
(5). Tidak adanya kebutuhan yang berlebihan untuk mengikuti berbagai aktifitas;

f. Adequate self knowledge (memiliki kemampuan pengetahuan yang wajar). Termasuk di dalamnya:
(1). Cukup mengetahui tentang: motif, keinginan, tujuan, ambisi, hambatan, kompetensi, pembelaan, dan perasaan rendah diri;
(2). Penilaian yang realistis terhadap diri sendiri baik kelebihan maupun kekurangan; dan
(3). Mampu menilai diri secara jujur (jujur pada diri sendiri), mampu untuk menerima diri sendiri apa adanya, dan mengakui serta menerima sejumlah hasrat atau pikiran meski beberapa diantara hasrat itu secara sosial dan personal tidak dapat diterima;

g. Integration and consistency of personality (kepribadian yang utuh dan konsisten). Ini bermakna:
(1). Cukup baik perkembangan diri dan kepribadiannya, kepandaiannya, dan berminat dalam beberapa aktivitas;
(2). Memiliki prinsip moral dan kata hati yang tidak terlalu berbeda dengan pandangan kelompok;
(3). Mampu untuk berkonsentrasi; dan
(4). Tiadanya konflik-konflik besar dalam kepribadiannya dan tidak dissosiasikan terhadap kepribadiannya;

h. Adequate of life goal (memiliki tujuan hidup yang wajar). Hal ini berarti:
(1). Memiliki tujuan hidup yang sesuai dengan dirinya sendiri dan dapat dicapai;
(2). Mempunyai usaha yang tekun dalam mencapai tujuan tersebut; dan
(3). Tujuan itu bersifat baik untuk diri sendiri dan masyarakat ;

i. Ability to learn from experience (kemampuan belajar dari pengalaman). Kemampuan untuk belajar dari pengalaman hidupnya sendiri. Bertambahnya pengetahuan, kemahiran dan keterampilan mengerjakan sesuatu berdasarkan hasil pembelajaran dari pengalamannya. Selain itu juga termasuk di dalamnya kemampuan untuk belajar secara spontan.

j. Ability to satisfy to requirements of the group (kekmampuan memuaskan tuntutan kelompok). Individu harus:
(1). Dapat memenuhi tuntutan kelompok dan mampu menyesuaikan diri dengan anggota kelompok yang lain tanpa harus kehilangan identitas pribadi dan diri sendiri;
(2). Dapat menerima norma-norma yang berlaku dalam kelompoknya;
(3). Mampu menghambat dorongan dan hasrat diri yang dilarang oleh kelompoknya;
(4). Mau berusaha untuk memenuhi tuntunan dan harapan kelompoknya: ambisi, ketepatan, persahabatan, rasa tanggung jawab, dan kesetiaan; serta
(5). Berminat untuk melakukan aktivitas atau kegiatan yang disenangi oleh kelompoknya.

k. Adequate emancipation from the group or culture (mempunyai emansipasi yang memadai dari kelompok atau budaya). Hal ini mencakup:
(1). Kemampuan untuk menilai sesuatu itu baik dan yang lain adalah buruk berdasarkan penilaian diri sendiri tanpa terlalu dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan dan budaya serta kelompok;
(2). Dalam beberapa hal bergantung pada pandangan kelompok;
(3). Tidak ada kebutuhan yang berlebihan untuk membujuk (menjilat), mendorong, atau menyetujui kelompok ; dan
(4). Mampu menghargai perbedaan budaya.

Selain itu sehat sendiri yaitu kondisi yang baik dalam emosi, batin, intelektual/berpikir, sosial, spiritual.


2. Sejarah kajian kesehatan mental secara umum secara historis kajian kesehatan mental terbagi dalam dua periode yaitu periode pra-ilmiah dan periode ilmiah (Langgulung, 1986: 23).

a. Periode Pra-Ilmiah
Sejak zaman dulu sikap terhadap gangguan pribadi atau mental telah muncul dalam konsep primitif animisme, ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang primitif percaya bahwa angina bertiup, ombak mengalun, batu berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal dalam benda-benda tersebut. Orang Yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dan korban.

Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Dia dan pengikutnya mengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan naturalisme, suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik itu merupakan akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu. Dia mengatakan, “jika anda memtong batok kepala, maka anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau amis, akan tetapi anda tidak akan meihat roh, dewa atau hantu yang melukai badan anda”. Ide naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam pembedahan hewan.

Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi di kalangan orang-orang Kriten. Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filsafat politik dan sosial untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniac) dirantai, diikat di tembok dan di tempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebih, dan mereka dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, di antara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak menunjukkan lagi kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.

b. Era Ilmiah (Modern)
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan era pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional bersikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf medis di Rumah Sakit Penisylvania. Di rumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunaties (orang gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyakit kegilaan tersebut, dan kurang mengetahui bagaimana menyembuhkannya. Sebagai akibatnya, pasien-pasien tersebut didukung dalam sel yang kurang sekali alat ventilasinya, dan mereka sekali-sekali diguyur dengan air. Rush melakukan usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.

Perkembangan psikologi abnormal dan psikiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya mental hygiene yang berkembang menjadi suatu body of knowledge berikut gerakan-gerakan yang terorganisir. Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pimikiran dan inspirasi para ahli, dalam hal ini terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothe Lynde Dix dan Clifford Whittingham Beers. Kedua orang ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan gangguan mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah. Dorthea Lynde Dix lahir pada tahun 1802 dan meninggal dunia tanggal 17 juli 1887. Dia adalah seorang guru sekolah di Massachussets, yang menaruh perhatian terhadap orang-orang yang mengalami gangguan mental. Sebagai perintis, selama 40 tahun dia berjuang untuk memberikan pengorbanan terhadap orang-orang gila secara lebih manusiawi. Usahanya mula-mula diarahkan pada para pasien mental di rumah sakit. Kemudian diperluas kepada para penderita gangguan mental yang dikurung di rumah-rumah penjara. Pekerja Dix ini merupakan faktor penting dalam membangun kesadaran masyarakat umum untuk memperhatikan kebutuhan para penderita gangguan mental. Berkat usahanya yang tak kenal lelah, di Amerika didirikan 32 rumah sakit jiwa (AF. Jailani, 2000: 54).

Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul. Selama dekade 1900-1909 beberapa organisasi kesehatan mental telah didirikan, seperti Amerika Social. Hygiene Association (ASHA), dan Amerika Federation for Sex Hygiene. Perkembangan gerakan-gerakan di bidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Bahkan karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai “The Founder of The Mental Hygiene Movement”. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi. Didesikasikan Beers yang begitu kuat dalam kesehatan mental, dipengaruhi oleh pengalaman sebagai pasien di beberapa rumah sakit jiwa yang berbeda. Selama di rumah sakit, dia mendapatkan pelayanan atau pengobatan yang keras dan kasar (kurang manusiawi). Kondisi seperti ini terjadi, karena pada masa itu belum ada perhatian terhadap masalah gangguan mental, apalagi pengobatannya.

Setelah dua tahun mendapatkan perawatan di rumah sakit dia mulai memperbaiki dirinya, dan selama tahun terakhirnya sebagai pasien, dia mulai memperbaiki dirinya, dan selama tahun terakhirnya sebagai pasien, dia mulai mengembangkan gagasan untuk membuat suatu gerakan untuk melindungi orang-orang yang mengalami gangguan mental atau orang gila (insane). Setelah dia kembali dalam kehidupan yang normal (sembuh dari penyakitnya), pada tahun 1908 dia menindak lanjuti gagasannya dengan memplubikasikan sebuah tulisan otobiografinya sebagai mantan penderita gangguan mental yang berjudul A Mind That Found It Self. Kehadiran buku ini disambut baik oleh William James, sebagai seorang pakar psikologi. Dalam buku ini, dia memberikan koreksi terhadap program pelayanan, perlakuan yang diberikan kepada para pasien di rumah sakit yang dipandangnya kurang manusiawi. Di samping itu dia melupakan reformasi terhadap lembaga yang diberikan perawatan gangguan mental.

Beers meyakini bahwa penyakit atau gangguan mental dapat dicegah atau disembuhkan. Selanjutnya dia merancang suatu program yang bersifat nasional tujuan (Langgulung, 1986: 23):
a. Mereformasikan program perawatan dan pengobatan terhadap orang-orang pengidap penyakit jiwa;
b. Melakukan penyebaran informasi kepada masyarakat agar mereka memiliki pemahaman dan sikap yang positif terhadap para pasien yang mengidap gangguan atau penyakit jiwa;
c. Mendorong dilakukannya berbagai penelitian tentang kasus-kasus dan pengobatan gangguan mental; dan
d. Mengembangkan praktik-praktik untuk mencegah gangguan mental.

Program Beers ini ternyata mendapat respon positif dari kalangan masyarakat, terutama kalangan para ahli, seperti William James dan seorang psikiatris ternama, yaitu Adolf Mayer. Begitu tertariknya terhadap gagasan Beers, Adolf Mayer menyarankan untuk menamai gerakan itu dengan nama “Mental Hygiene”. Dengan demikian, yang mempopulerkan istilah “Mental Hygiene” adalah Mayer. Belum lama setelah buku itu diterbitkan, yaitu pada tahun 1908, sebuah organisasi pertama didirikan dengan nama Connectievt Society For Mental Hygiene. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 19 Februari 1909 didirikan National Commitye Siciety for Mental Hygiene; di sini Beers diangkat menjadi sekretarisnya. Organisasi ini bertujuan:
a. Melindungi kesehatan mental masyarakat;
b. Menyusun standar perawatan para pengidap gangguan mental;
c. Meningkatkan studi tentang gangguan mental dalam segala bentuknya dan berbagai aspek yang terkait dengannya;
d. Menyebarkan pengetahuan tentang kasus gangguan mental, pencegahan dan pengobatannya; dan
e. Mengkoordinasikan lembaga-lembaga perawatan yang ada.

Terkait dengan pengembangan gerakan kesehatan mental ini, Deutsch mengemukan bahwa pada masa dan pasca Perang Dunia I, gerakan kesehatan mental ini mengkonsentrasikan programnya untuk membantu mereka yang mengalami masalah serius. Setelah perang usai, gerakan kesehatan mental semakin berkembang dan cangkupan garapannya meliputi berbagai bidang kegiatan, seperti pendidikan, kesehatan masyarakat, pengobatan umum, industri, kriminologi, dan kerja sosial. Secara hokum, gerakan kesehatan mental ini mendapat pengukuhannya pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika Presiden Amerika Serikat menandatangani “The National Mental Health Act”. Dokumen ini merupakan blueprint yang komprehensif, yang berisi program-program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat. Beberapa tujuan yang terkandung dalam dokumen tersebut itu meliputi (Kartono, 1989: 29):
a. Meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian, investigasi, eksperimen penanganan kasus-kasus, diagnosis dan pengobatan;
b. Membantu lembaga-lembaga pemerintahan dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan koordinasi antara para peneliti dan meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitiannya;
c. Memberikan latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental; dan
d. Mengembangkan dan membantu negara dalam menerapkan berbagai metode pencegahan, diagnosis, dan pengobatan terhadap para pengidap gangguan mental.

Pada tahun 1950 organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya National Association for Mental Health yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu National Cimmittee for Mental Hygiene, National Mental Health Foundation, dan Psychiatric Foundation. Gerakan kesehatan mental ini terus berkembang, sehingga pada tahun 1075 di Amerika Serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui World Federation for Mental Health dab World Health Organozation.


3.
A. Freud merupakan psikologi pertama yang menekankan aspek-aspek perkembangan kepribadian dan terutama menekankan peranan menentukan dari tahun-tahun awal masa bayi dan kanak-kanak dalam meletakkan stuktur watak dasar sang pribadi. Kepribadian berkembang sebagai respon terhadap empat sumber tenaga pokok, yakni: (1) Proses-proses pertumbuhan fisiologi, (2) frustasi-frustasi, (3) konflik-konflik, dan (4) ancaman-ancaman. Sebagai akibat langsung dari meningkatnya tegangan yang ditimbulkan oleh sumber-sumber ini, sang pribadi terpaksa mempelajari cara-cara baru mereduksikan tegangan. Proses belajar inilah yang dimaksudkan dengan perkembangan kepribadian.

Identifikasi dan pemindahan (displacement) adalah dua cara yang digunakan individu untuk belajar mengatasi frustasi-frustasi, konflik-konflik, dan kecemasan-kecemasan.

Identifikasi
Konsep ini membantu menerangkan pembentukan ego dan superego. Freud lebih suka memakai istilah identifikasi daripada imitasi karena ia berpendapat bahwa imitasi mengandung arti sejenis peniruan tingkah laku yang bersifat dangkal dan sementara ia menginginkan suatu kata yang mengandung pengertian sejenis pemerolehan yang kurang bersifat permanent pada kepribadiannya.

Anak mengidentifikasikan diri dengan orangtuanya karena orangtuanya tampak mahakuasa, sekurang-kurangnya selama tahun masa kanak-kanak awal. Ketika anak bertambah besar, mereka menemukan orang lain yang prestasi-prestasinya lebih sejalan dengan hasrat-hasrat baru mereka untuk diidentifikasi. Setiap masa cenderung mempunyai tokoh-tokoh identifikasinya sendiri yang khas. Kebanyakan identifikasi berjalan tak sadar, bukan dengan intensi sadar sebagaimana terkesan dari istilah sendiri.

Identifikasi merrupakan cara orang dapat memperoleh kembali suatu objek yang telah hilang. Dengan mengidentifikasi diri dengan orang terkasih yang telah meninggal atau berpisah, maka orang orang yang telah hilang itu dijelmakan kembali dalam bentuk cirri tertentu yang meresap atau melekat pada kepribadian seseorang. Anak-anak yang ditolak orangtuanya cenderung membentuk identifikasi yang kuat dengan mereka yang harapan bias kembali memperoleh cinta mereka. Orang juga dapat mengidentifikasikan diri dengan seseorang karena takut. Anak mengidentifikasikan larangan-larangan orang tua untung menghindarkan diri dari hukuman. Identifikasi semacam ini merupakan dasar pembentukan superego.

Struktur final kepribadian merupakan akumulasi berbagai identifikasi yang dilakukan pada berbagai masa kehidupan orang, kendati ibu dan ayah mungkin merupakan tokoh-tokoh identifikasi terpenting dalam kehidupan seseorang. \


Pemindahan
Freud mengemukakan bahwa perkembangan peradaban dimungkinkan oleh pengekangan terhadap pemilihan-pemilihan objek primitif serta pengalihan energi insting ke saluran-saluran yang dapat diterima oleh masyarakat dan secara kultural kreatif (1930). Suatu pemindahan yang menghasilkan prestasi kebudayaan yang lebih tinggi disebut sublimasi. Sehubungan dengan ini Freud mengamati bahwa kegemaran Leonardo da Vinci melukis gambar-gambar Madonna merupakan ungkapan sublimasi kerinduannya akan kasih sayang ibunya yang telah meninggalkannya pada usia masih muda (1910a). Karena sublimasi tidak memberikan kepuasan yang sempurna, seperti halnya setiap bentuk pemindahan yang lain, maka selalu terdapat sisa tegangan. Tegangan ini bias muncul dalam bentuk sikap nervous atau kegelisahan, kondisi-kondisi oleh Freud disebut harga yang dibayar oleh manusia bagi statusnya yang beradab (1908).

Arah yang ditempuh pemindahan ditentukan oleh dua faktor : (1) kemirioan objek pengganti dengan objek aslinya, dan (2) sanksi-sanksi dan larangan-larangan yang diterapkan masyarakat. Faktor kemiripan sesungguhnya adalah taraf sejauh mana kedua objek adalah identik dalam pikiran orang tersebut. Kemampuan untuk membentuk kateksis objek pengganti merupakan mekanisme yang paling kuat dalam perkembangan kepribadian. Jaringan yang kompleks meliputi minta, preferensi, nilai, sikap, dan keterikatan yang menjadi ciri kepribadian manusia dewasa dimungkinkan oleh pemindahan ini. Apabila energi psikis ini tidak dapat dipindahkan dan tidak dapat didistribusikan maka tidak akan terjadi perkembangan kepribadian.

Tahap-tahap Perkembangan
a. Fase oral : Sumber kenikmatan dan kepuasan yang bersumber pada mulut. Makan meliputi stimulasi sentuhan terhadap bibir dan rongga mulut, serrta menelan atau jika makan tidak menyenangakan, memuntahkannya.
b. Fase anal : Pusat kenikmatan terletak didaerah anus, terutama saat BAB. Setelah makanan dicernakan, maka sisa makanan menumpuk diujung bawah dari usus dan secara refleks akan dilepaskan keluar apabila tekanan pada otot lingkar dubur mencapai taraf tertentu. Pada saat inilah dimulai toilet training, biasanya selama umur 2 tahun, anak mendapatkan pengalaman pertama yang menentukan tantang pengaturan atas suatu impuls instingtual oleh pihak luar.
c. Fase falik : Masa dimulainya berfungsi organ-organ genital. Kenikmatan mantrubasi serta kehidupan fantasi anak yang menyertai aktivitas auto-erotik membuka jalan bagi timbulnya kompleks Oedipus.
d. Fase genital : kateksis-kateksi dari masa-masa pragenital bersifat narsistik. Daya tarik seksual, sosialisasi, kegiatan-kegiatan kelompok, perencanaan karier, dan persiapan untuk menikah dan membangun keluarga mulai muncul.

Meskipun Freud membedakan empat tahap perkembangan kepribadian, namun ia tidak mengansumsikan bahwa terdapat batas-batas tajam atau transisi-transisi yang mengejutkan dalam peralihan dari satu tahap ke tahap lain. Bentuk akhir organisasi kepribadian merupakan hasil sumbangan dari keempat tahap itu.


B. Perkembangan menurut Erikson berlangsung melalui tahap-tahap, seluruhnya ada delapan tahap. Empat tahap yang pertama terjadi pada masa bayi dan kanak-kanak, tahap kelima pada masa adolsen, dan ketiga tahap yang terakhir pada tahun-tahun dewasa dan usia tua. Dalam tulisan Erikson, tekanan khusus diletakkan pada masa adolsen karena masa tersebut merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Identitas, krisis-krisis identitas, dan kekacauan identitas merupakan konsep-konsep Erikson yang sangat terkenal.

I. Kepercayaan Dasar versus Kecurigaan Dasar
Kepercayaan dasar yang paling awal terbentuk selama tahap sensorik oral dan ditunjukkan oleh bayi lewat kapasitasnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan dengan nyaman dan membuang kotoran dengan santai. Tahap pertama kehidupan ini, masa bayi merupakan tahap ritualisasi numinous. Yang dimaksudkan Erikson dengan nominous adalah perasaan bayi akan kehadiran ibu yang bersifat keramat, pandangannya, pegangannya, sentuhannya, senyumannya, teteknya, caranya memanggil dengan nama.
Masing-masing tahap awal ini membentuk suatu ritualisasi yang dilanjutkan ke masa kanak-kanak dan menambah ritual-ritual masyarakat. Bentul ritual nominous yang menyimpang terungkap dalam kehidupan dewasa berupa pemujaan terhadap pehlawan secara berlebih-lebihan atau idolisme.

II. Otonomi versus Perasaan Malu dan Keragu-raguan
Pada tahap kehidupan (tahap maskular anal dalam skema psikoseksual) anak mempelajari apakah yang diharapkan dari dirinya, apakah kewajiban-kewajiban dan hak-haknya disertai apakah pembatasan-pembatasan yang dikenakan pada dirinya. Perjuangan anak terhadap pengalaman baru dan lebih berorientasi pada kegiatan, menimbulkan sejenis tuntutan ganda pada anak, tuntutan untuk mengontrol diri sendiri dan tuntutan untuk menerima kontrol dari orang lain dalam lingkungan.

III. Inisiatif versus Kesalahan
Tahap psikososial ketiga, yang setara dengan tahap lokomotor genital dalam psikoseksual ialah tahap inisiatif, suatu masa untuk memperluas penguasaan dan tanggung jawab. Selama tahap ini anak menampilkan diri lebih maju dan lebih “seimbang” secara fisik maupun kejiwaan. Inisiatif bersa-sama dengan otonomi memberikan anak suatu kualitas sifat mengejar, merencanakan, serta kebulatan tekat dalam menyelesaikan tugas-tugas dan meraih tujuan. Bahaya dalam tahap ini adalah perasaan bersalah yang dapat menghantui anak karena terlampau bergairah memikirkan tujuan-tujuan, termasuk fantasi-fantasi genital, menggunakan cara agresif serta manipulatif untuk mencapai tujuan. Anak mulai ingin sekali belajar, dan mampu belajar dengan baik pada usia ini, ia berjuang untuk tumbuh dalam arti melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menunjukkan prestasi.

IV. Kerajinan versus Inferioritas
Pada tahap keempat dalam proses epigenetik ini (dalam skema Freud, periode laten) anak harus belajar mengontrol imajinasinya yang sangat kaya, dan mulai menempuh pendidikan formal. Ia mengembangkan suatu sikap rajin dan mempelajari ganjaran dari ketekunan dan kerajinan. Perhatian pada alat-alat permainan dan kegiatan bermain berangsur-angsur digantikan oleh perhatian pada situasi-situasi produktif dan alat-alat serta perkakas-perkakas yang dipakai untuk bekerja. Bahaya dari tahap ini adalah anak bias mengembangkan perasaan rendah diri apabila dia tidak berhasil menguasai tugas-tugas yang dipilihnya atau yang diberikan oleh guru-guru dan orangtuanya.

V. Identitas versus Kekacauan Identitas
Selama masa adolsen, individu mulai merasakan suatu perasaan terntang identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalah manusia unik, namun siap untuk memasuki suatu peranan yang berarti di tangah masyarakat, entah peranan ini bersifat menyesuaikan diri atau bersifat mempengaruhi. Sang pribadi mulai menyadari sifat-sifat yang melekat pada dirinya sendiri, seperti aneka kesukaan dan ketidaksukaannya, tujuan-tujuan yang dikejarnya dimasa depan, kekuatan dan hasrat untuk mengontrol nasibnya sendiri. Inilah masa dalam kehidupan ketika orang ingin menentukan siapakah ia pada saat sekarang dan ingin menjadi apakah ia di masa depan. Inilah masa untuk membuat rencana-rencana karier.

VI. Keintiman versus Isolasi
Dalam tahap ini orang-orang dewasa awal siap dan ingin menyatakan identitasnya dengan orang lain. Mereka mendambakan hubungan-hubungan yang intim-akrab, dan persaudaraam, serta siap mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen-komitmen meskipun mereka mungkin harus berkorban. Agar memiliki arti sosial yang bersifat menetap maka genitalitas membutuhkan seseorang untuk dicintai dan diajak mengadakan hubungan-hubungan seksual, dan dengan siapa seseorang dapat berbagi rasa dalam suatu kepercayaan. Bahaya dalam tahap ini adalah isolasi, yakni kecenderungan menghindari hubungan karena orang tidak mau melibatkan diri dalam keintiman.

VII. Generativis versus Stagnasi
Ciri tahap ini adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan keturunan, produk-produk, ide-ide dan sebagainya, serta pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman untuk generasi-generasi mendatang.

VIII. Intergritas versus Keputusasaan
Tahap terakhir integritas paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara ide-ide, dan setelah berhasil menyesuaikan diri dengan keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan-kegagalan dalam hidup.


4. Apasih kepribadian sehat itu?
Pada psikologi tradisional konsep tentang sehat kurang lebih mirip dengan konsep mengenai kesehatan yaitu tidak adanya gejala-gejala yang cukup untuk memasukkan individu ke dalam katagori gangguan (kepribadian) tertentu. Atau dengan kata lain, kepribadian sehat bertitik tolak dari apakah individu tersebut berbeda dari mereka yang nyata-nyata terganggu atau tidak. Dari sudut pandang statistik kepribadian sehat adalah kepribadian individu umumnya, yang digambarkan secara statistik berada di dalam kurva normal.




Daftar Pustaka:
Hall, Calvin S. & Gardner Lindzey. 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius.
Rochman, Khalil Lur. 2010. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Fajar Media Press.
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Andi.